27 Desember 2008

AKULTURASI DAN KOMUNIKASI

| No comment
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Seperti yang Young Yun Kim paparkan dalam buku Komunikasi Antarbudaya karya Deddy Mulyana, Manusia adalah makluk sosio-budaya yang memperoleh perilakunya lewat belajar. Apa yang kita pelajari pada umumnya dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya. Dari semua aspek belajar manusia, komunikasi merupakan aspek yang sangat penting dan paling mendasar. Kita belajar dari banyak hal lewat respons-respons komunikasi terhadap rangsangan dari lingkungan. Kita harus menyandi dan menyandi balik pesan-pesan dengan cara itu sehingga pesan-pesan tersebut akan dikenali, diterima, dan direspons oleh individu-individu yang berinteraksi berfungsi sebagai alat untuk menafsirkan lingkungan fisik dan sosial kita. Komunikasi merupakan alat utama kita untuk memanfaatkan berbagai sumber daya lingkungan dalam pelayanan kemanusiaan. Lewat komunikasi kita menyesuaikan diri dan hubungan dengan lingkungan kita, serta mendapatkan keanggotaan dan rasa memiliki dalam berbagai kelompok sosial yang mempengaruhi kita.
Komunikasi...adalah pembawa proses sosial. Ia adalah alat yang manusia untuk mengatur, menstabilkan, dan memodifikasi kehidupan sosialnya.... Proses sosial bergantung pada penghimpunan, pertukaran, dan penyampaian pengetahuan. Pada gilirannya pengetahuan bergantung pada komunikasi (peterson, jensen, dan rivers, 1965: 16).
Dalam konteks yang luas ini, kita dapat merumuskan budaya sebagai paduan pola-pola yang merefleksikan respons-respons komunikatif terhadap rangsangan dari lingkungan. Pola-pola budaya ini pada gilirannya merefleksikan elemen-elemen yang sama dalam perilaku komunikasi individu yang dilakukan mereka yang lahir dan diasuh dalam budaya itu. Le Vine (1973) menyatakan fikiran ini ketika mendefinisikan budaya sebagai perangkat aturan terorganisasikan mengenai cara-cara yang dilakukan individu-individu dalam masyarakat berkomunikasi satu sama lain dan cara mereka berfikir tentang diri mereka dan lingkungan mereka.
Proses proses yang dilalui individu-individu untuk memperoleh aturan-aturan (budaya) komunikasi dimulai pada masa awal kehidupan. Melalui proses sosialisasi dan pendidikan, pola-pola budaya ditanamkan kedalam sistem saraf dan menjadi bagian kepribadian dan perilaku kita (adler, 1976) . proses belajar yang teriternalisasikan ini memungkinkan kita untuk berinteraksi dengan anggota-anggota budaya lainnya yang juga memiliki pola-pola komunikasi serupa. Proses mmperoleh pola-pola demikian oleh individu-individu itu disebut enkulturasi (herskovits, 1966 : 24) atau istilah-istilah serupa lainnya seperti pelaziman budaya (cultural conditioning) dan pemrograman budaya (cultural programming).

Lalu apa yang terjadi bila seseorang yang lahir dan terenkulturasi dalam suatu budaya tertentu memasuki suatu budaya lain sebagai seorang imigran atau pengungsi untuk selamanya? Tidak seperti para pengunjung sementara, imigran ini akan perlu membangun suatu hidup baru dan menjadi anggota masyarakat pribumi. Kehidupannya serta fungsional akan bergantung pada masyarakat pribumi; tidak akan mudah baginya untuk menjadi seorang pengamat dalam masyarakat tersebut. Banyak tata cara komunikasi yang telah diperoleh imigran sejak masa kanak-kanaknya yang mungkin tak berfungsi lagi dalam lingkungan yang barunya. Transaksi-transaksi dalam kehidupan sehari-hari saja membutuhkan kemampuan berkomunikasi yang menggunakan lambang-lambang dan aturan-aturan yang ada dalam sistem komunikasi masyaraka pribumi.

Tidaklah mudah memahami perilaku-perilaku kehidupan yang sering tak diharapkan dan tak diketahui bagi banyak orang pribumi, apalagi bagi para imigran.sebagai anggota baru dalam budaya pribumi, imigran harus menghadapi banyak aspek kehidupan yang asing. Asumsi-asumsi budaya tersembunyi dan respons-respons yang telah terkondisikan menyebabkan banyak kesulitan-kesulitan kognitif, afektif, dan prilaku dalam penyesuaian diri engan budaya yang baru. Seperti yang chutz (1960 : 108) kemukakan,”bagi orang asing,pola budaya kelompok yang dimasukinya bukanlah merupakan tempat berteduh tami merupakan suatu arena petualangan, bukan merupakan hal yang lazim tapi suatu topik penyelidikan yang meragukan, bukan suatu alat untuk lepas dari situasi-situasi problematik tersendiri yang sulit dikuasai.”
Meskipun demikian, hubungan antara budaya dan individu, seperti yang terlihat pada enkulturasi, membangkitkan kemampuan manusia yang besar untuk menyesuaikan dirinya dengan keadaan. Secara bertahap imigran belajar menciptakan situasi-situasi dan relasi-relasi yang tepat dalam masyarakat pribumi sejalan dengan berbagai transaksinya yang ia lakukan dengan oran g-orang lain. Pada saatnya, imigran akan menggunakan cara-cara berprilaku masyarakat pribumi untuk menyesuaikan diri dengan pola-pola yang diterima masyarakat setempat;penyesuaian diri yang ia lakukan dengan lebih teliti. Perubahan-perubahan perilaku juga terjadi ketika seorang imigran menyimpang dari pola-pola budaya lama yang dianutnya dan mengganti pola-pola lama tersebut dengan pola-pola baru dalam budaya pribumi.
Proses enkulturasi kedua yang terjadi pada imigran ini disebut akulturasi (acculturation). Akulturasi merupakan suatu proses yang dilakukan imigran untuk menyesuaikan diri dengan dan memperoleh budaya pribumi, yang akhirnya mengarah pada asimilasi yang merupakan derajat tertinggi akulturasi yang secara teoritis mungkin terjadi. Bagi kebanyakan imigran asimilasi mungkin merupakan tujuan sepanjang hidup.
Dari sedikit paparan tulisan diatas begitu pentingnya peranan Akulturasi dan Komunikasi maupun sebaliknya dalam berkomunikasi antarbudaya, maka penulis pun merasa perlu untuk membuat karya ilmiah ini agar bisa menjelaskan lebih detil lagi tentang “Akulturasi dan Komunikasi”.
1.2. Masalah
Masalah yang ingin dikemukakan disini adalah :
a. Apa faktor- faktor penting yang bisa memberi andil kepada potensi akulturasi yang besar?
b. Bagaimana peran komunikasi dalam mempermudah akulturasi?

1.3. Metode Kerja
Metode yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah :
Penulis mencoba mencoba untuk menguraikan dengan sejelas-jelasnya tentang persoalan diatas agar mahasiswa/i yang mengambil mata kuliah ini ataupun yang memerlukan tulisan ini sebagai bahan rujukan bisa memahaminya atau mengetahuinya.

1.4. Metodolodi Pengumpulan Data
Penulis melakukan beberapa tehnik dalam proses “Pengumpulan Data” untuk melancarkan pembuatan “Tugas Akhir” ini, diantaranya:
1. Melakukan studi pustaka berdasarkan sumber-sumber tertulis, seperti buku ( Sebagian besar diambil dari buku Komunikasi Antarbudaya, karya Deddy Mulyana);
2. Mencari data yang relevan terhadap tema”, seperti internet;
Semua tehnik dalam proses “Pengumpulan Data” ini tentunya memiliki relevansi terhadap topik yang penulis ambil.

1.5. Tujuan Pembahasan
1. Untuk dapat diketahui oleh pembaca tentang “apa faktor- faktor yang bisa memberi andil kepada potensi akulturasi yang besar”.
2. Untuk dapat diketahui oleh pembaca tentang “peran komunikasi dalam mempermudah akulturasi”

1.6. Manfaat Pembahasan
1. Untuk dapat digunakan sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa/i yang memerlukan tulisan ini.
2. Sebagai materi pelajaran bagi mahasiswa/i yang mengambil mata kuliah “Komunikasi Antarbudaya”.

KOMUNIKASI DAN AKULTURASI
Thomas Glick (1997) akulturasi adalah proses pergantian budaya yang di set dalam gerakan dari pertemuan sistem budaya yang autonom. Menghasilkan sebuah peningkatan persamaan antara satu dengan yang lainnya.
Robert Redfield, Ralph Linton dan Melville Herskovits dalam american antropologist (1936) akulturasi merupakan sebuah hasil ketika dua kelompok budaya dari individu-individu saling bertukar perbedaan budaya, timbul dari keberlanjutan perjumpaan pertama. Dimana terjadi perubahan dari pola asli kebudayaan dari kedua kelompok tersebut.
Dalam proses komunikasi pastinya mendasari proses akulturasi seorang imigran. Akulturasi terjadi melalui identifikasi dan internalisasi lambang-lambang masyarakat pribumi yang signifikan. Sebagaimana orang-orang pribumi memperoleh pola-pola budaya pribumi lewat komunikasi seorang imigran pun memperoleh pola-pola budaya pribumi lewat komunikasi. Seorang imigran akan mengatur dirinya untuk mengetahui dan diketahui dalam berhubungan dengan orang lain.Dan itu dilakukannya lewat komunikasi.Proses trial and error selama akulturasi sering mengecewakan dan menyakitkan. Dalam banyak kasus, bahasa asli imigran sangat berbeda dengan bahasa asli masyarakat pribumi. Masalah-masalah komunikasi lainnya meliputi masalah komunikasi nonverbal, seperti perbedaan-perbedaan dalam penggunaan dan pengaturan ruang, jarak antar pribadi, ekspresi wajah, gerak mata,gerak tubuh lainnya,dan persepsi tentang penting tidaknya prilaku nonverbal.
Bahkan bila seorang imigran dapat menggunakan pola-pola komunikasi verbal dan nonverbal secara memuaskan, ia mungkin masih akan mengalami sedikit kesulitan dalam mengenal dan merespons aturan-aturan komunikasi bersama dalam budaya yang ia masuki itu. Imigran sering tidak sadar akan dimensi-dimensi budaya pribumi yang tersembunyi yang mempengaruhi apa yang di persepsikan dan bagai mana mempersepsi, bagaimana menafsirkan pesan-pesan yang diamati, dan bagaimana mengekspresikan pikiran dan prasaan secara tepat dalam konteks relasional dan keadaan yang berlainan. Perbedaan-perbedaan lintas budaya dalam aspek-aspek dasar komunikasi ini sulit diidentifikasi dan jarang dibicarakan secara terbuka. Perbedaan-perbedaan tersebut sering merintangi timbulnya saling pengertian antar para imigran dan anggota-anggota masyarakat pribumi.
Bila kita memandang akulturasi sebagai proses pengembangan kecakapan berkomunikasi dalam sistem sosio-budaya pribumi, perlulah ditekankan fakta bahwa kecakapan berkomunikasi sedemikian diperoleh melalui pengalaman-pengalaman berkomunikasi.Orang belajar berkomunikasi dengan berkomunikasi. Melalui pengalaman-pengalaman berkomunikasi yang teruss menerus dan beraneka ragam, seorang imigran secara bertahap memperoleh mekanisme komunikasi yang ia butuhkan untuk menghadapi lingkungannya. Keccakapan berkomunikasi yang telah diperoleh imigran lebih lanjut menentukan seluruh akulturasinya. Kecakapannya ini terutama terletak pada kemampuan imigran untuk mengontrol perilakunya dan lingkungan pribumi. Kecakapanimigran dalam berkomunikasi akan berfungsi sebagai seperangkat alat penyesuaian diri yang membantu imigran memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya seperti kebutuhan akan kelangsungan hidup dan kebutuhan akan “rasa memiliki” dan “harga diri” (maslow, 1970:47).Survei tentang imigran-imigran asal korea dan indocina di amerika serikat dalam penyesuaian diri secara psikologis, sosial, dan ekonomis.
Oleh karena itu, proses akulturasi adalah suatu proses yang interaktif dan berkesinambungan yang berkembang dalam dan melalui komunikasi seorang imigran dengan lingkungan sosio-budaya yang baru. Kecakapan komunikasi yang diperolehnya, pada gilirannya menunjukkan derajat akulturasi imigran tersebut. Derajat akulturasi imigran tidak hanya direfleksikan dalam, tapi juga di permudah oleh, derajat kesesuaian antara pola-pola komunikasinya dan pola-pola komunikasi masyarakat pribumi yang disetujui bersama. Ini tidak berarti bahwa setiap rincian prilakukomunikasi seorang imigran dapat diamati untuk memahami akulturasinya, tidak pula berarti bahwa semua aspek akulturasinya dapat dipahami melalui pola-pola komunikasinya. Namun, dengan memusatkan perhatian pada beberapa variabel komunikasi yang penting dalam proses akulturasi, kita dapat memperkirakan realiitas akulturasi pada suatu saat tertentu dan juga meramalkan tahap akulturasi selanjutnya.
VARIABEL - VARIABEL KOMUNIKASI DALAM AKULTURASI
Dalam menganalisis akulturasi seorang imigran dari perspektif komunikasi terdapat pada perspektif sistem yang dielaborasi oleh Ruben (1975). Dalam perspektif sistem, unsur dasar suatu sistem komunikasi manusia teramati ketika orang secara aktif sedang berkomunikasi, berusaha untuk, dan mengharapkan berkomunikasi dengan lingkungan. Sebagai suatu sistem komunikasi terbuka, seseorang berinteraksi dengan lingkungan melalui dua proses yang saling berhubungan komunikasi persona dan komunikasi sosial.

Komunikasi Persona
Komunikasi persona (atau intrapersona) mengacu kepada proses-proses mental yang dilakukan orang untuk mengatur dirinya sendiri dalam dan dengan lingkungan sosio-budayanya, mengembangkan cara-cara melihat, mendengar, memahami, dan merespon lingkungan.”komunikasi persona dapat dianggap sebagai merasakan, memahami, dan berprilaku terhadap objek-objek dan orang-orang dalam suatu lingkungan. Ia adalah proses yang dilakukan individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya” (Ruben, 1975 : 168 – 169). Dalam konteks akulturasi, komunikasi persona, seorang imigran dapat dianggap sebagai pengaturan pengalaman-pengalaman akulturasi kedalam sejumlah pola respon kognitif dan afektif yang dapat diidentifikasikan dan konsisten dengan budaya pribumi atau yang secara potensial memudahkan aspek-aspek akulturasi lainnya.
Salah satu variabel komunikasi persona terpenting dalam akulturasi adalah kompleksitas struktur kognitif imigran dalam mempersepsi lingkungan pribumi. Selama fase-fase awal akulturasi, persepsi seorang imigran atas lingkungan pribuminya relatif sederhana; persepsi imigran atas lingkungannya yang asing itu menunjukkan stereotip-stereotip kasar. Namun, setelah imigran mengetahui budaya pribumi lebih jauh, persepsinya menjadi lebih halus dan kompleks, memungkinkannya menemukan banyak variasi dalam lingkungan pribumi.
Suatu variabel komunikasi persona lainnya dalam akulturasi adalah citra diri (self image) imigran yang berkaitan dengan citra-citra imigran tentang lingkungannya.

Komunikasi Sosial
Komunikasi persona berkaitan dengan komunikasi sosial ketika dua atau lebih individu berinteraksi, sengaja atau tidak. “komunikasi adalah suatu proses yang mendasari intersubjektivitas, suatu fenomena yang menjadi sebagai akibat simbolisasi publik dan penggunaan serta penyebaran simbol” (Ruben, 1975 : 171).melalui komunikasi sosial individu-individu “menyetel” perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, dan perilaku-perilaku antara yang satu dengan yang lainnya. Komunikasi sosial dapat dikategorikan lebih jauh kedalam komunikasi antarpersona dan komunikasi masa.komunikasi antarpersona terjadi melalui hubungan-hubungan antarpersona, sedangkan komunikasi masa adalah suatu proses komunikasi sosial yang lebih umum, yang dilakukan individu-individu untuk berinteraksi dengan lingkungan sosio-budayanya, tanpa terlihat dalam hubungan-hubungan antarpersona dengan individu-individu tertentu.

Lingkungan Komunikasi
Kondisi- kondisi lingkungan merupakan hal yang mungkin secara signifikan mempengaruhi perkembangan sosio–budaya yang akan dicapai imigran. Suatu kondisi lingkungan yang sangat berpengaruh pada komunikasi dan akulturasi imigran adalah adanya komunitas etniknya di daerah setempat. Derajat pengaruh komunitas etnik atas perilaku imigran sangat bergantung pada derajat “kelengkapan kelembagaan” komunitas tersebut dan kekuatannya untuk memelihara budayanya yang khas bagi anggota-anggotanya (Taylor, 1979). 

POTENSI AKULTURASI
Pola-pola akulturasi tidaklah seragam diantara individu-individu tetapi beraneka ragam, bergantung pada potensi akulturasi yang dimiliki imigran sebelum berimigrasi.
Kemiripan antar budaya asli (imigran) dan budaya pribumi mungkin merupakan faktor terpenting yang menunjang potensi akulturasi.
Diantara faktor-faktor karakteristik-karakteristik demografik,usia pada saat berimigrasi dan latar belakang pendidikan terbukti berhubungan dengan potensi akulturasi. Imigran yang lebih tua mengalami lebih banyak kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan budaya yang baru dan mereka lebih lambat dalam memperoleh pola-pola budaya baru (Kim, 1976). Latarbelakang pendidikan imigran sebelum berimigrasimempermudah akulturasi (Kim, 1976, 1980.
Faktor-faktor yang memperkuat potensi akulturasi adalah faktor-faktor kepribadian seperti suka berteman ,toleransi, mau mengambil resiko, keluesan kognitif, keterbukaan dan sebagainya karakteristik-karakteristik kepribadian ini membantu imigran membentuk persepsi, perasaan dan perilakunya yang memudahkan dalam lingkungan yang baru.
Disamping itu, pengetahuan imigran tentang budaya pribumi sebelum berimigrasi yang siperoleh dari kunjungan yang sebelumnya, kontak-kontak antarpesona, dan lewat media massa, juga dapat mempertinggi potensi akultrasi imigran.

PERAN KOMUNIKASI DALAM MEMPERMUDAH AKULTURASI
Peran akulturasi banyak berkenaan dengan usaha menyesuaikan diri dengan, dan menerima pola-pola dan aturan-aturan komunikasi dominan yang ada pada masyarakat pribumi. Kecakapan komunikasi pribumi yang diperoleh pada gilirannya akan mempermudah semua aspek penyesuain diri lainnya dalam masyarakat pribumi. Dan informasi tentang komunikasi imigran memungkinkan kita meramalkan derajat dan pola akulturasinya.
Potensi akulturasi seorang imigran sebelum berimigrasi dapat memepermudah akulturasi ayang dialaminya dalam masyarakat pribumi. Adapun faktor-faktor yang menentukan potensi akultrasi adalah sebagai berikut:
1. Kemiripan antara budaya asli (imigran) dan budaya pribumi;
2. Usia pada saat berimigrasi;
3. Latar belakang pendidikan
4. Beberapa karakteristik kepribadian, seperti suka bersahabat dan toleransi;
5. Engetahuan tentang budaya pribumi sebelum berimigrasi.
Proses akulturasi akan segera berlangsung saat seorang imigran memasuki budaya pribumi. Proses akulturasi akan terus berlangsung selama imigran mengadakan kontak langsung dengam sistem sosio-budaya pribumi. Semua kekuatan akulturatif-komunikasi persona dan sosial, lingkungan komunikasi dan potensi akulturasi mungkin tidak akan berjalan lurus dan mulus, tapi akan bergerak majumenuju asimilasi yang secara hipotesis merupakan asimilasi yang sempurna.
Jika seorang imigran ingin mempertinggi kapasitas akulturatifnya dan secara sadar berusaha mempermudah proses akulturasinya, maka ia harus menyadari pentingnya komunikasi sebagai mekanisme penting untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Dan memiliki suatu kecakapan komunikasi dalam budaya pribumi, kecakapan kognitif, afektif, dan perilaku dalam berhubungan dengan lingkungan pribumi.
Karena proses akulturasi adalah suatu proses interaktif ”mendorong dan menarik” antara seorang imigran dan lingkungan pribumi. Maka imigran tak akan pernah mendapatkan tujuan akulturatifnya sendirian. Tapi anggota-anggota masyarakat pribumi dapat mempermudah akulturasi imigran dengan menerima pelaziman budaya asli imigran, dengan memberikan situasi-situasi komunikasi yang mendukung kepada imigran, dan dengan menyediakan diri secara sabar untuk berkomunikasi antarbudaya dengan imigran. masyarakat pribumi dapat lebih aktif membantu akulturasi imigran dengan mengadakan program-program latihan komunikasi. Dan nantinya segala program latihan tersebut harus membantu imigran dalam memperoleh kecakapan komunikasi.

Komunikasi Antar Budaya dan Akulturasi
Jika seseorang memasuki alam kebudayaan baru, timbul memacam
kegelisahan dalam dirinya. Kecenderungan dalam menghadapi sesuatu yang baru ini bersifat alami dan normal. Tetapi perasaan itu dapat mengarah pada rasa takut,
tidak percaya diri, tekanan dan frustasi. Apabila hal demikian terjadi pada seseorang, maka dikatakan ia sedang mengalami “culture shock”, yakni masa khusus transisi serta perasaan-perasaan unik yang timbul dalam diri orang setelah ia memasuki suatu kebudayaan baru. Orang yang mengalami fenomena “culture shock” ini akan merasakan gejala-gejala fisik seperti pusing, sakit perut, tidak bisa tidur, ketakutan yang berlebihan terhadap hal yang kurang bersih dan kurang sehat, tidak berdaya dan menarik diri, takut ditipu, dirampok, dilukai, melamun, kesepian, disorientasi dll.(Dodd, 1982:97-98). Karena sifatnya yang cenderung disorientasi, “culture shock”, menghambat KAB yang efektif.
Tahap-Tahap “Culture Shock”
Tahap-tahap yang dilalui seseorang dalam mengalami proses transisi tersebut telah diteliti oleh beberapa ahli (Dodd, 1982:98) :
a. “Harapan besar” (“eager expectation”) :
Dalam tahap ini, orang tersebut merencanakan untuk memasuki kebudayaan kedua atau kebudayaan baru. Rencana tersebut dibuatnya dengan bersemangat, walaupun ada perasaan was-was dalam menyongsong kemungkinan yang bisa terjadi. Sekalipun demikian, ia dengan optimis menghadapi masa depan dan perencanaan dilanjutkan.
b. “Semua begitu indah” ( everything is beautiful”) :
Dalam tahap ini segala sesuatu yang baru terasa menyenangkan. Walaupun mungkin beberapa gejala seperti tidak bisa tidur atau perasaan gelisah dialami, tetapi rasa keingin – tahuan dan entusiasme dengan cepat dapat mengatasi
perasaan tersebut. Beberapa ahli menyebut tahap ini sebagai “bula madu”.
Dari penelitian-penelitian diketahuui bahwa tahap ini biasanya berlangsung
beberapa minggu sampai enam bulan.
c. “Semua tidak menyenangkan” (“everything is awful”)
Masa bulan madu telah usai. Sekarang segala sesuatu telah terasa tidak menyenangkan. Setelah beberapa lama, ketidak-puasan, ketidak-sabaran, kegelisahan mulai terasa. Nampaknya semakin sulit untuk berkomunikasi dan segalanya terasa asing. Untuk mengatasi ras ini ada beberapa cara yang ditempuh. Seperti dengan cara melawan yaitu dengan mengejek, memandang rendah dan bertindak secara etnosentrik; kadang-kadang juga melakukan kekerasan dengan merusah benda-benda secara fisik, sehingga dapat menimbulkan kesulitan hukum bagi dirinya sendiri. Tahap selanjutnya melarikan diri dan mengadakan penyaringan serta pelenturan.
d. “ Semua berjalan lancar” (everything is ok)
Setelah beberap bulan berselang, orang tersebut menemukan dirinya dalam Keadaan dapat menilai hal yang positif dan negatif secara seimbang. Akhirnya ia telah mempelajari banyak tentang kebudayaan baru di luar kebudayaannya.
Dari pembahasan di atas, akulturasi tidak terjadi secara sama dalam
kehidupan setiap orang. Demikian pula sebagian orang bermotivasi untuk
berakulturasi, sebagian laginya tidak. Integrasi total berlangsung secara bertahap
pada beberapa factor. Nampaknya juga untuk masa depan, pluralisme kebudayaan masih akan merupakan suatu kenyataan. Tantangan bagi setiap komunikator antar budaya ialah untuk memahami dinamika kontak kebudayaan, perinsip-perinsip akulturasi, culture shock dan menerapkannya pada hubungan-hubungan yang bermanfaat.


Kesimpulan
Perbedaan kebudayaan dan gaya-gaya komunikasi berpotensi untuk menimbulkan masalah-masalah dalam berkomunikasi lintas budaya. Tetapi tidak
saja perbedaan, melainkan juga lebih penting lagi adalah kesulitan untuk mengakui perbedaan yang menyebabkan masalah serius dan mengancam kelancaran KAB. Maka kesadaran akan variasi kebudayaan, ditambah dengan kemauan untuk menghargai variasi tersebut akan sangat mendorong hubungan antar kebudayaan. Melalui pengalaman-pengalaman lintas budaya , kita menjadi lebih terbuka dan toleran dalam menghadapi keganjilan-keganjilan budaya. Bila ini ditunjang dengan studi formal tentang konsep budaya, kita tidak hanya memperolehpandangan-pandangan baru untuk memperbaiki hubungan-hubungan kita dengan orang lain, namun kita pun menjadi sadar akan dampak budaya asli kita pada diri kita. Pemahaman budaya dapat mengurangi dampak gegar budaya (culture shock) dan meningkatkan pengalaman-pengalaman antar budaya. Untuk memahami perbedaan-perbedaan budaya lebih efektif, penulisberpendapat bahwa langkah pertama dalam proses ini adalah meningkatkan kesadaran budaya seseorang secara umum. Orang harus memahami konsep budaya dan ciri-cirinya sebelum ia memperoleh manfaat yang sebaik-baiknya. Disamping itu, dengan memahami ‘potensi akulturasi dan peran komunikasi dalam mempermudah akulturasi’ dari pihak-pihak yang berkomunikasi akan memudahkan berlangsungnya proses komunikasi dan dalam pencapaian makna di antara keduanya. 

Saran
Hendaknya pemahaman tentang penerapan Komunikasi Lintas Budaya ini tidak
hanya di lingkungan Sivitas Akademika saja, namun perlu diperluas kepada
masyarakat untuk menghindari konflik-koflik SARA yang dapat mengancam
ketenangan dan kenyamanan hidup bermasyarakat.
Di Tulis Oleh:
Muhadi

sumber:
Mulyana. Deddy dan Jalaluddin Rahmat. 2006. Komunikasi Antar Budaya. Remaja
Rosdakarya. Bandung.

Tags : ,

Follow by Email

Accordition

Well, the way they make shows is, they make one show. That show's called a pilot. Then they show that show to the people who make shows, and on the strength of that one show they decide if they're going to make more shows.

Like you, I used to think the world was this great place where everybody lived by the same standards I did, then some kid with a nail showed me I was living in his world, a world where chaos rules not order, a world where righteousness is not rewarded. That's Cesar's world, and if you're not willing to play by his rules, then you're gonna have to pay the price.

You think water moves fast? You should see ice. It moves like it has a mind. Like it knows it killed the world once and got a taste for murder. After the avalanche, it took us a week to climb out. Now, I don't know exactly when we turned on each other, but I know that seven of us survived the slide... and only five made it out. Now we took an oath, that I'm breaking now. We said we'd say it was the snow that killed the other two, but it wasn't. Nature is lethal but it doesn't hold a candle to man.

You see? It's curious. Ted did figure it out - time travel. And when we get back, we gonna tell everyone. How it's possible, how it's done, what the dangers are. But then why fifty years in the future when the spacecraft encounters a black hole does the computer call it an 'unknown entry event'? Why don't they know? If they don't know, that means we never told anyone. And if we never told anyone it means we never made it back. Hence we die down here. Just as a matter of deductive logic.

What people are saying :